Dalai Lama Melatih Keahlian Kehidupan Sehari-hari

oleh Bodhi Leaf pada 24 Oktober 2012 pukul 14:05 ·

Oleh Eileen FitzGerald, Stamford Advocate,
BLNews, 24 Oktober 2012



DANBURY, CT (USA) -- Tujuh bhiksu di panggung mulai melafal -- perlahan, rendah, mantra yang menentramkan -- mendiamkan para penonton yang meninggalkan hujan deras pada Jumat pagi untuk pergi ke O'Neill Center untuk melihat Dalai Lama.

Pada hari keduanya di Western Connecticut State University, Beliau menyampaikan ceramah berjudul "Saran untuk Kehidupan Sehari-hari."

Pemimpin Buddhis yang berumur 77 tahun, Dalai Lama ke-14, membagikan
anekdot-anekdot lucu dan peneguhan keyakinan selama ceramahnya mengenai pemaafan, menumbuhkan kekuatan dalam diri dan peran pendidikan dalam pengembangan untuk pendekatan terhadap hidup.

"Peneguhan keyakinan, perhatian murni untuk yang lain, adalah sumber yang utama untuk kedamaian batinmu sendiri," kata Beliau.

Beliau memperingatkan bahwa sikap egois akan membawa orang kepada rasa tidak aman dan takut.

"Metode untuk menaklukkan takut dan tidak aman artinya Anda harus mengembangkan perhatian kepada yang lain," katanya. "Saat Anda mengembangkan kedamaian diri, itu artinya tidak masalah apapun jenis lingkungan tempat Anda berada, batin Anda tetap tenang."

The Dalai Lama mendapatkan tepuk tangan selama satu jam kotbahnya dari 3,500 orang saat Beliau mengatakan bahwa pendidikan memiliki peran yang sangat penting, namun pendidikan tersebut juga seharusnya dikutsertakan pengajaran tentang nilai-nilai diri. Keramaian -- generated applause during his one-hour speech from the 3,500 people on hand when he said education has a very important role, but it should include teaching about inner values.The crowd -- dari bayu yang digendong di lengan hingga para senior yang berjalan dengan tongkat atau kursi roda -- memenuhi bangku dan kursi lipat, bermaksud untuk mendengarkan Dalai Lama.

Saat aktor Richard Gere mengenalkan Yang Mulia pada hari kedua, ia mengatakan meskipun orang-orang memiliki kemauan untuk melewati masa-masa sulit, mereka memiliki hati yang lembud dan dapat belajar dari Dalai Lama.

"Beliau tidak terlihat Tibetan saat ini, Beliau terlihat universal," kata Gere. "Kami harus berbahagia atas karma baik yang kita miliki untuk berada di sini. Mari kita sambut satu dari yang terbesar yang berjalan di planet ini."

Nilai penting dalam ceramah Dalai Lama adalah mengenai pemaafaan.

"Pemaafaan bukan berarti menundukkan kepala kepada yang lainnya yang telah bersalah terhadapmu," katanya. "Itu artinya tidak membiarkan perasaan negatif terhadap perbuatan yang salah itu meningkatkan rasa takut dan jarak," dan tidak membiarkan perasaan negatif kepada orang yang melakukannya."

Terkadang pemaafaan dilihat sebagai tanda kelemahan, namun itu salah, kata Beliau.

"Pemaafaan adalah tanda kekuatan. Kemarahan adalah tanda kelemahan. "Dalai Lama, yang sering mendiskusikan bagaimana kehidupan cinta kasih merupakan transenden dari kepercayaan religius individu, menjelaskan bagaimana Ibu Teresa dan Dr. Martin Luther King Jr, tulus diikuti kepercayaannya, tapi tidak untuk setiap orang.

Terdapat orang-orang yang memiliki profesi religius, yang menyatakan diri mereka pendoa, tapi tidak memiliki perhatian untuk yang lainnya, katanya, namun mereka tidak mengikuti agamanya dengan tulus dan serius.

"Sekali kita percaya, kita seharusnya serius dan tulus, kata Beliau.

Saat perkenalan hari Jumat, Presiden WestConn James Schmotter mengenalkan Dalai Lama dengan sebuah gelar doktor terhormat di bidang kemanusiaan, mengatakannya "apresiasi yang sedalam-dalamnya untuk apa yang telah dikerjakan oleh Yang Mulia untuk mempromosikan kedamaian dan cinta kasih di seluruh dunia."

Pada akhir kotbah Dalai Lama, Schmotter berterima kasih kepada Beliau atas "memberikan kami  pelajaran yang berguna bagi kami hingga akhir hidup kami."

"Seluruh kampus sangat berbahagia atas kunjungan Dalai Lama. Kami semua merangkul pesan yang Beliau bawa ke Danbury," kata WestConn Assistant Social Sciences Professor Carina Bandhauer, yang menjadi penonton pada Jumat.

Ia mengatakan bahwa ia mengikuti situasi politik Tibet untuk waktu yang lama dan telah mendengar apa yang dikatakan oleh peradana menteri Tibet saat berbicara di WestConn tahun lalu.

"Ini akan menyatukan warga kota, yang mana tidak selalu memiliki cinta kasih," kata Bandhauer. "Saya harap setiap orang dapat meresapi pesan akan cinta kasih."

Mary Bethel Coelho, dari Litchfield, menemukan bahwa Dalai Lama sangatlah kuat dalam kunjungannya selama acara dua hari tersebut, dengan membawa anak laki-lakinya pada hari Kamis dan saudara laki-lakinya pada Jumat. Sebelumnya Ia melihat Dalai Lama di Emery University dengan anaknya yang lain.

"Ajarannya cukup mencerahkan untuk dibaca, namun untuk melihat nada suara, kebahagiaan yang Beliau pancarkan saat Beliau berbicara kepada para hadirin merupakan penegasan bagi saya," Coelho berkata pada Jumat.

Dengan dunia yang dipenuhi dengan kekerasan dan perang, ia berkata, Beliau melayani sebagai sebuah ideal untuk cara hidup yang berbeda.

"Saya pikir perubahan yang terbesar akan datang dengan apa yang kami ajarkan kepada anak-anak kami dan apa yang mereka ajarkan untuk anak-anak mereka," katanya.

Ia mengatakan suaminya, yang telah sakit, telah terinspirasi oleh filosofi Dalai Lama tentang kebutuhan untuk memperluas energi Anda untuk menyelesaikan masalah jika terdapat solusi, namun untuk tidak membuang-buang waktu mengkhawatirkan jikan tidak terdapat solusi.

Saudara laki-lakinya, Bryan Spiotti, seorang petugas polisi dari Oakville, mengatakan dirinya dan Coelho menjadi tertarik degan Buddhisme pada saat yang sama, dan ia menemukan bahwa menggunakan cinta kasih membantu ia dalam pekerjaannya.

"Mempelajari untuk hidup dalam cinta kasih dapat mengubah sudut pandang Anda," katanya.

Dalai Lama mendesak para hadirin untuk mengedukasi diri mereka sendiri, untuk menginvestigasi perhatian dan membawa keyakinan pada kepercayaan mereka, maka pendekatan tersebut akan menjadi bagian dari alamiah mereka.

"Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, prinsip akan menjadi bagian dari kehidupan seharian kita," kata Beliau dalam sebuah jawaban atas salah satu pertanyaan setelah ceramah Beliau. "Itulah cara untuk mengubah hidup."

Sumber: buddhistchannel.tv
Share:

Paling di suka

Di Buka

Daftar Isi

Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Powered by Blogger.

Recent Posts