Agama Buddha Bukan Berhala

Banyak orang yang belum mengenal agama Buddha menganggap agama Buddha sebagai berhala dan penuh tahayul. Hal ini disebabkan karena dalam agama Buddha terdapat ritual/upacara yang menggunakan altar Buddha sebagai salah satu komponennya sehingga umum anggapan bahwa umat Buddha menyembah Buddha (memberhalakan Buddha). Sesungguhnya tidak demikian jika kita mengetahui asal usul kegiatan ritual Buddhis tersebut.
Patung Buddha Sebagai Objek Penghormatan Umat Buddha

Semasa Buddha Gautama hidup tidak pernah Beliau mengizinkan para siswa-Nya untuk membuat patung diri-Nya. Pernah suatu ketika Anathapindika, seorang pengikut Buddha yang terkenal akan kedermawanannya
, mengatakan kepada Ananda, seorang murid dekat Sang Buddha, bahwa Buddha selalu bepergian ke tempat-tempat yang jauh untuk mengajar. Dengan demikian jika ada umat yang datang untuk memberikan penghormatan kepada Beliau maka orang tersebut kehilangan kesempatan untuk melakukan hal tersebut. Ananda memberitahukan hal ini kepada Buddha.

“Bhante, ada berapa objek penghormatan yang Anda perkenankan?” tanya Ananda.

Buddha menjawab, “Ada tiga, Ananda. Objek penghormatan yang berkenaan dengan tubuh Sang Buddha (misalnya relik tubuh Beliau), objek penghormatan yang berkenanan dengan barang-barang penggunaan pribadi (misalnya jubah dan mangkuk yang pernah Beliau pakai), dan objek penghormatan yang dapat mengingatkan seseorang pada Sang Buddha.”

“Bolehkah kami membangun cetiya (cetiya di sini berarti tempat penyimpanan relik seperti stupa tetapi tidak berisi relik) untuk menghormati Anda?”

“Tidak, itu bukan objek penghormatan yang berkenaan dengan tubuh Sang Buddha yang seharusnya dibangun setelah Buddha wafat. Objek penghormatan yang dapat mengingatkan pada Buddha tidak memiliki dasar fisik (maksudnya tidak mengandung badan jasmani Buddha), ia hanya bersifat mental (hanya bersifat sebagai pengingat). Namun pohon Bodhi yang pernah menaungi Buddha merupakan objek penghormatan yang tepat apakah Beliau masih hidup atau tidak.”

“Bhante, ketika Bhante mengadakan perjalanan untuk mengajar, vihara Jetavana ini kehilangan pelindungnya, orang-orang tidak dapat memberikan penghormatan kepada Anda. Bolehkan kami mengambil biji pohon Bodhi dan menanamnya di depan pintu masuk vihara Jetavana?”

“Sangat baik, Ananda, tanamlah biji pohon Bodhi tersebut. Ia akan berlaku seolah-olah Aku selalu berdiam di Jetavana.”

Demikianlah akhirnya pohon Bodhi, tempat di mana Siddharttha Gautama mencapai Pencerahan, menjadi objek penghormatan orang-orang pada masa Sang Buddha sampai saat ini. Pada masa tersebut umumnya vihara tidak memiliki altar di mana patung Buddha diletakkan, melainkan hanya ditanam pohon Bodhi di halaman vihara. Selain itu, dalam ruang mimbar dibuat simbol roda berjeruji delapan untuk mengingatkan akan ajaran Buddha tentang Jalan Mulia Berunsur Delapan.

Namun seiring perkembangannya, agama Buddha menyebar ke luar India dan dianut oleh orang-orang Yunani (beberapa populasi orang Yunani juga terdapat di India karena penyerangan Alexander Agung dari Macedonia ke lembah sungai Indus). Seorang raja berketurunan Yunani bernama Kanishka yang berkuasa di India pada abad ke-2 M memperkenalkan untuk pertama kalinya penggunaan patung Buddha sebagai objek penghormatan. Hal ini disebabkan oleh pengaruh kebudayaan dan agama orang Yunani yang menggambarkan dewa-dewi mereka dalam wujud manusia dan membangun patung dewa-dewi tersebut dalam kuil pemujaan mereka.

Tentu saja dalam pengertian Buddhis sendiri, patung Buddha ataupun siswa-Nya bukan sebagai objek pemujaan (berhala), melainkan sebagai objek atau lambang yang mengingatkan pada wujud asli Buddha sendiri. Penggunaan patung sebagai objek penghormatan diperbolehkan karena tidak semua orang bisa memfokuskan pikiran pada sesuatu yang abstrak seperti pohon Bodhi atau roda Jalan Mulia Berunsur Delapan. Akan lebih mudah untuk memahami bahwa Buddha hadir di tengah-tengah kita dengan simbol patung Beliau. Dalam hal ini patung Buddha hanyalah sebagai media untuk mengenang perbuatan dan ajaran Beliau, sama seperti foto pahlawan di dalam ruang kelas hanya sebagai media untuk mengenang dan menghormati jasa para pejuang bangsa tersebut.

Perlengkapan Upacara/Ritual Buddhis Lainnya

Selain patung Buddha, umumnya dalam altar Buddhis terdapat objek-objek lain yang bertujuan untuk mengingatkan akan ajaran Buddha itu sendiri, misalnya dupa, lilin, bunga, buah, dan air. Dupa yang jika dibakar akan menimbulkan keharuman yang menyebar ke seluruh ruangan merupakan pelambang dari suatu perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan menyebar keharumannya ke seluruh penjuru. Lilin atau pelita sebagai lambang penerang dalam kegelapan batin. Bunga yang begitu dipetik dari tanamannya akan segera merupakan lambang ketidakkekalan. Buah merupakan lambang hasil suatu perbuatan yang akan membuahkan akibat sesuai dengan baik buruknya perbuatan tersebut. Air merupakan lambang kesucian batin yang merupakan tujuan akhir yang ingin dicapai umat Buddha. Selain itu, air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah juga melambangkan kerendahan hati.

Dengan mengetahui dan memahami bahwa semua objek penghormatan dalam altar Buddha hanyalah sebagai lambang yang mengingatkan akan ajaran Buddha sendiri, seorang umat Buddha tidak meminta-minta atau memohon sesuatu (berkah) di hadapan altar Buddha karena bagaimana pun itu hanyalah benda-benda buatan manusia yang bisa rusak dan tidak bisa mengabulkan permohonan.

Ketika umat Buddha berdoa, sesungguhnya ia tidak meminta agar permohonannya dikabulkan, karena doa dalam agama Buddha bukan permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Doa dalam agama Buddha adalah pengharapan akan terjadinya hal-hal yang baik. Masalah apakah hal-hal baik tersebut akan terjadi atau tidak tergantung pada karma masing-masing individu, tidak ada makhluk mana pun yang dapat mempercepat masaknya buah karma baik ataupun mencegah berbuahnya karma buruk. Doa tersebut biasanya berbunyi “Semoga semua makhluk berbahagia”, “Semoga dalam perjalanan saya dapat selamat sampai tujuan”, “Semoga kebajikan ini dapat turut dirasakan oleh para leluhur saya yang telah meninggal dunia”, dst.

Pembacaan Paritta

Selain itu, dalam ritual atau upacara Buddhis biasanya dibacakan berbagai paritta, yaitu kata-kata perlindungan (paritta dalam bahasa Pali berarti perlindungan) yang berasal dari kata-kata Buddha sendiri atau kata-kata yang digubah oleh para pengikut-Nya. Biasanya paritta berbahasa Pali (salah satu dialek bahasa Magadhi yang digunakan pada masa Sang Buddha), Sanskerta, atau pun Mandarin. Asal-usul pembacaan paritta berasal dari pengulangan kembali kata-kata Sang Buddha oleh para siswa-Nya setelah Beliau wafat. Sesudah Buddha wafat, tidak ada yang berperan sebagai guru yang senantiasa berkotbah di hadapan para umat di vihara. Menjelang wafat-Nya, BUddha menolak menunjuk pengganti Beliau sebagai pimpinan Sangha (perkumpulan para bhikkhu), tetapi berpesan agar Dharma, ajaran Beliau, dijadikan guru pengganti Beliau. Oleh sebab itu, para pengikut Buddha senantiasa membacakan berulang-ulang kata-kata Buddha yang mereka warisi sebagai pengingat akan ajaran Beliau. Dengan demikian seolah-olah Buddha sendiri hadir di tengah-tengah para pengikut-Nya dan mengotbahkan ajaran Beliau tersebut. Lama-kelamaan pembacaan ini berkembang menjadi ritual keagamaan yang kita lihat sekarang.

Umumnya paritta yang berasal dari kata-kata Sang Buddha berisi ajaran Beliau dan berfungsi sebagai pegangan hidup bagi umat Buddha. Namun ada juga beberapa paritta yang diajarkan Buddha kepada para siswanya sebagai perlindungan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, Karaniya Metta Sutta yang diajarkan kepada 500 bhikkhu yang mengalami gangguan dari para makhluk halus saat mereka bermeditasi di dalam hutan. Para makhluk halus penghuni hutan tersebut khawatir jika para bhikkhu akan merebut tempat tinggal mereka. Oleh sebab itu, mereka menakuti-nakuti para bhikkhu dengan berbagai wujud yang menyeramkan. Para bhikkhu yang tidak bisa tenang dalam bermeditasi menemui Sang Buddha untuk mencari solusi atas permasalahan ini. Buddha kemudian mengajarkan mereka agar memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk karena jika mereka merasakan pancaran cinta kasih tersebut mereka juga akan bersikap baik kepada kita. Sebagai media untuk membangkitkan pancaran cinta kasih kepada semua makhluk, Buddha mengajarkan Karaniya Metta Sutta kepada ke-500 bhikkhu tersebut. Para bhikkhu pun kembali ke dalam hutan dan membacakan Karaniya Metta Sutta sembari memancarkan cinta kasih kepada para makhluk halus tersebut. Merasakan pancaran cinta kasih dari para bhikkhu, para makhluk halus tidak lagi berniat buruk terhadap para bhikkhu, malahan mereka membantu para bhikkhu dengan menyediakan tempat yang nyaman untuk bermeditasi di hutan dan menyiapkan berbagai keperluan lainnya. Pada akhir masa pengasingan diri tersebut, akhirnya para bhikkhu dapat mencapai kesucian batin.

Paritta yang merupakan kata-kata gubahan para pengikut Buddha sesudah masa Sang Buddha umumnya bersifat sebagai pengharapan akan hal-hal yang baik, seperti paritta Ettavata yang mengandung kata-kata untuk membagikan jasa kebajikan kepada semua makhluk tidak kasat mata yang hadir selama pembacaan paritta. Ada juga paritta gubahan para siswa Buddha yang merupakan ringkasan dari kata-kata Buddha yang terlalu panjang jika dibacakan sebagai paritta, misalnya Bojjhanga Paritta yang diringkas dari Bojjhanga Sutta yang berisi kata-kata Buddha tentang 7 faktor penerangan agung.

Bagaimana pun hebatnya seseorang membaca paritta keampuhannya bergantung pada faktor keyakinan, karma, dan kekotoran batin orang tersebut. Pembacaan paritta akan bermanfaat jika orang yang membacanya memiliki keyakinan terhadap ajaran yang terkandung dalam paritta tersebut, memiliki karma baik yang mendukung, dan tingkat kekotoran batinnya tidak menghalangi kekuatan pembacaan paritta tersebut.

Kesimpulan

Dalam agama Buddha berbagai objek penghormatan yang terdapat pada altar Buddha bukanlah sebagai media pemujaan terhadap Buddha. Buddha atau makhluk mana pun tidak dapat mengabulkan permintaan seseorang atau pun melindunginya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Semua harapan akan hal-hal yang baik tersebut apakah dibacakan dalam bentuk doa atau paritta akan terjadi bergantung pada faktor keyakinan, karma, dan kekotoran batin diri sendiri. Semuanya hanyalah sebagai pengingat akan ajaran Buddha, selain untuk menunjukkan seakan-akan Buddha yang telah wafat lebih dari 2500 tahun lampau hadir di tengah-tengah para umat-Nya.

Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin memberikan kutipan kata-kata Sang Buddha tentang cara penghormatan yang benar terhadap Beliau saat menjelang wafat-nya:

“Pohon sala kembar sekarang sedang penuh dengan bunga meskipun sekarang bukan musimnya untuk berbunga, dan bunga-bunga tersebut jatuh bertaburan di atas tubuh Sang Buddha sebagai penghormatan kepada Sang Buddha…. Namun demikian, Ananda, bukan ini caranya memberikan penghormatan tertinggi kepada Sang Buddha. Tetapi, Ananda, bila seorang bhikkhu, bhikkhuni, upasaka, atau upasika berpegang teguh pada Dharma, hidup sesuai dengan Dharma, bertindak sesuai dengan Dharma, maka orang-orang tersebut sesungguhnya telah memberikan penghormatan tertinggi kepada Sang Buddha.” (Mahaparinibbana Sutta)

Dengan demikian, segala ritual atau upacara Buddhis lengkap dengan pembacaan paritta di depan altar Buddha walaupun dapat membangkitkan perasaan keyakinan religius tertentu pada diri seorang Buddhis, namun sesungguhnya ini bukan penghormatan tertinggi kepada Buddha sebagai guru junjungan agung. Penghormatan tertinggi hanyalah dapat dilakukan dengan menjalankan ajaran Beliau dalam kehidupan sehari-hari sesuai petunjuk Buddha sesaat sebelum wafat-Nya di atas.

Sumber : http://filsafat.kompasiana.com/2010/01/30/agama-buddha-bukan-berhala-64704.html
Share:

Paling di suka

Di Buka

Daftar Isi

Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Powered by Blogger.

Recent Posts