Mengapa kita perlu Pattidana?

Mengapa kita perlu melakukan Upacara Pattidana?

Upacara Pattidana ini tentu bukan untuk yang pertama kalinya kita lakukan, tetapi sudah sering kita lakukan, yang menjadi pertanyaan mengapa kita harus melakukan ini?
Ini yang seharusnya kita cari jawabannya.

Mātāpitu-upaṭṭhānaṁ puttādarassa saṅgaho, anākulā ca kammantā, tiga syair ini sesunguhnya sudah mewakili serangkaian Upacara Pattidana. Mātāpitu-upaṭṭhānaṁ, Mātā itu ibu, upaṭṭhānaṁ itu merawat, pitu itu ayah, merawat ayah dan ibu. Mātāpitu-upaṭṭhānaṁ (menyokong keluarga, menyokong anak lelaki dan perempuan). Anākulā ca kammantā (tidak memiliki perilaku yang tercela). Tiga syair ini merupakan berkah utama yang tidak mudah untuk didapat.

Untuk siapa kita melakukan Upacara Pattidana? Tentu untuk ketiga hal ini, yaitu untuk ayah, untuk ibu, untuk anak-anaknya dan untuk mereka yang memiliki perbuatan-perbuatan bajik. Untuk tiga motivasi ini kita seperlunya dan sepatutnya melakukan Upacara Pattidana atau upacara pelimpahan jasa, untuk mengenang orang-orang yang berjasa kepada kita. Siapa yang berjasa kepada kita? Pertama adalah orang tua kita Ayah dan Ibu. Orangtua kita adalah orang pertama yang sangat berjasa untuk kita, karena itu dalam Upacara Pattidana sebagai anak yang sudah ditinggalkan oleh ayah atau ibunya, kita tidak harus berfikir yang bermacam-macam. Kita sembahyang melakukan puja dan hormat kita untuk mendoakan ayah atau ibu kita yang sudah meninggal. Meskipun kita tidak tahu dimana almarhum ayah atau ibu kita dilahirkan, mungkin mereka terlahir lebih bahagia dari kita yang mendoakan. Tetapi beliau –beliau itu adalah orang pertama yang berjasa kepada kita, maka itu sangatlah patut dan perlu ketika kita melakukan Upacara Pattidana untuk jangan lupa dengan hal yang pertama ini. Karena orangtua kita ini adalah orang yang paling baik di dunia ini, ibu kita yang terbaik dan ayah kita juga yang terbaik dalam dunia ini.

Yang pertama orangtua kita yang terbaik, yang kedua adalah anak-anak kita atau putra-putri kita juga yang baik, orang baik yang ketiga adalah di sekeliling kita, kita mempunyai teman, rekan, dan lain-lain. mereka semua baik. Tetapi orang baik bukan berarti tidak pernah salah, pasti pernah mengalami salah. Salah akan perbuatanya, salah akan nasehatnya, salah akan ucapannya, dan lain-lain. Orangtua kita baik tetapi bukan berarti mereka tidak pernah salah. Orangtua kita ini baik, mereka telah membesarkan kita sehingga kita bisa sehebat ini adalah karena jasa dari kedua orangtua kita. Jangan pernah lupa dengan orangtua kita meskipun mereka pernah melakukan kesalahan. Kita tidak pernah bisa membalas jasa kedua orangtua kita yang begitu luar bisa, orang tua melahirkan kita tetapi kita tidak pernah melahirkan orangtua, orangtua menyusui kita, tetapi kita tidak pernah menyusui orangtua. Jadi kita kalau secara matematik atau secara hitungan, apapun kita tidak bisa membalas impas jasa orang tua kita yang beigtu luar biasa yang telah mereka lalukan kepada kita. Maka itu adalah hal yang utama untuk kita, ketika kita mengenang jasa orang-orang baik. Orang baik bukan berarti tidak akan pernah salah tetapi akan menjadi bijaksana ketika orang baik itu memperbaiki kesalahan yang sudah dilakukan.

Untuk Pattidana mengenang jasa kepada orangtua kita, Sang Buddha sendiri menegaskan bahwa bahkan sekalipun kita mengendong orangtua kita di atas bahu kita lalu mengarak orangtua kita sepanjang ibu kota, hal ini juga tidak akan mebalas jasa orangtua kita kepada kita. Jadi tidak ada istilah impas atau sampai disini kita melakukan pelimpahan jasa kepada orang tua, sepanjang hayat masih di kandung badan, sepanjang kita masih hidup, ini adalah kesempatan kita untuk selalu melimpahkan jasa kepada orang tua kita. Kita sering melakukan pelimpahan jasa, mereka semua sudah mulai terbuka mata batinya yang gelap itu, mulai terbuka bahwa perlunya seorang anak itu untuk mengenang jasa kedua orang tuanya. Orang yang berjasa bukan hanya orang tua kita saja, tetapi teman–teman kita ini juga berjasa. Orang yang punya pendamping hidup, seperti istri adalah orang yang berjasa bagi suaminya. Jadi suami menjadi sebagian dari istri dan suami juga berjasa bagi istrinya. Lepas dari tahu atau dari tidak tahu orang–orang yang berjasa itu dilahirkan di alam manapun, tetapi yang ada di pikiran kita yang ada di dalam batin kita hanyalah semoga orang-orang yang baik itu memperoleh kebahagiaan.

Kalau kita pelajari dan mengerti dengan baik Tirokudha Sutta, Sutta itu lebih di tujukan kepada mahkluk-mahkluk di luar alam manusia yaitu alam petta. Lalu siapa yang akan menikmati persembahan-persembahan itu semua? Tidak salah sasaran yang akan menikmati dan gembira serta bersuka ria itu yang akan menikmatinya. Apakah mungkin orang tua, teman, pacar, dan lain-lain lahir di alam petta? Bukalah pengertian dan wawasan pengetahuan kita, kehidupan ini sangatlah panjang yang menjadi orang tua kita bukanlah sekali ini dalam kehidupan kita, mungkin orang tua di kehidupan sebelum-sebelumnya, karena kurangnya kebajikan, kurang berbuat baik , kurang beramal dan lain-lain. Tetapi hatinya jahat karena kondisi itulah kemudian dilahirkan di alam petta. Mereka-mereka semua adalah para leluhur kita yang pernah menjadi orangtua kita di zaman yang kita tidak tahu, mungkin saudara atau orang tua kita, dan mereka di lahirkan di alam petta. Saat kita pesta melakukan persembahan, mereka berdatangan dan berkumpul untuk menungu kita memberikanya kepada mereka. Karena mahkluk petta tersebut juga mahkluk yang mempunyai sifat ketergantungan. Para mahkluk petta ini hanya akan menungu dan menungu sebelum dia dipersilahkan. Yang menikmati persembahan itu adalah mahkluk-mahkluk petta. Mahkluk petta ini sifatnya hidupnya adalah bergantungan dengan orang lain dan tidak pernah mendapatkan rasa kepuasan, selalu kurang. Didalam Tirokuda Sutta mahkluk petta ini hidupnya ketergantungan, kalau sanak keluarga yang masih hidup lupa melimpahkan jasa kepada mereka, mereka tentu saja akan tambah menderita. Dalam setiap melakukan kebajikan ingatlah selalu untuk melimpakahkan jasa kepada leluhur kita. Tetapi itu mahkluk petta yang benar-benar hidup di alam kehidupanya, tetapi juga ada mahkluk petta yang hidup di luar kehidupannya.

Mengapa kita ini sekarang dilahirkan menjadi manusia tetapi mengapa ada mahkluk lain yang di lahirkan di alam petta? Karena kita pernah jadi orang baik maka itu kita bisa terlahir di alam manusia. Tetapi kalau kita sekarang sudah menemukan Buddhasasana tidak mau berbuat baik, kikir sama orang lain itu akan menjerumuskan kita untuk lahir ke alam petta.

Kehidupan di alam petta ini panjang sekali, untuk masuk di kehidupan manusia ini juga panjang sekali, sekumpulan mahkluk petta yang oleh karena perbuatanya tetapi karena niat nya ini sangat kuat maka memperkuat mereka di lahirkan di alam setan atau petta, sekumpulan petta ini pada waktu itu adalah di zaman kelahiran seorang Buddha yang bernama Konaganama, sekumpulan mahkluk petta ini mendekati Buddha Konaganama, “Bhante saya sangat menderita kapan saya bisa terbebas dari penderitaan yang menghimpit ini?”, lalu Buddha Konaganama hanya bisa memberikan wejangan Dhamma “Hay para petta saya tidak bisa membebaskan akibat dari perbuatan kalian, karena kelahiranmu adalah buah dari perbuatan kamu sendiri, dan kamu sendiri yang kan membebaskan dirimu sendiri”. Buddha Konaganama lalu mengingatkan “nanti tanyakan kepada Buddha setelah saya, pada suatu kehidupan nanti ada kehidupan yang lahir suatu Buddha yaitu Buddha Kakusandha dan tanyakan kepada beliau.” Ketika Buddha Kakusandha muncul di dunia kehidupan sekumpulan mahkluk petta ini mendekat lagi, “Kapan saya bisa terbebas dari penderitaan ini?” Jawabanya pun sama dengan Buddha yang sebelumnya, “Dan nanti akan ada Buddha yang akan muncul lagi yaitu Buddha Kassapa tanyakan kepada Buddha Kassapa” Para mahkluk petta menjawab “baik bhante.” Ketika Buddha Kassapa muncul di dunia mahkluk ini pun mendekat dan bertanya, “Bahnte kapan saya bisa terbebas dari penderitaan ini?” dan jawabanya pun sama degan sebelumnya, “nanti akan ada Buddha yang memberi tahumu yang akan memberi jalan untuk terbebas dari penderitaan. Setelah saya nanti ada Buddha muncul yang bernama Buddha Gautama.” Begitu Buddha Gautama muncul mulailah kembali mendekat pada Sang Buddha dan diberilah jalan “Hai para mahkluk petta Kamu tahu mengapa Kamu begitu menderitanya sampai harus menunggu empat kelahiran buddha untuk membebaskan dari penderitaaan? Ketahuilah bahwa perbuatanmu memang tidak seberapa, tidak korupsi, tidak makan gaji gelap tidak, perbuatanmu kecil tetapi juga berat yaitu memberi makanan sisa kepada Bhikkhu dan akibatnya terlahir menjadi setan.” (Red)

Rangkuman Dhammadesana Oleh Y.M. Bikkhu Jagaro, Mahatera pada saat perayaan Pattidana di VDR

~Bikkhu Jagaro ~
Share:

Paling di suka

Di Buka

Daftar Isi

Terima kasih telah mengunjungi blog kami. Powered by Blogger.

Recent Posts